Monday, 30 November 2015

This too will pass



Ketika aku mengalami sakit penyakit aku pastinya akan mengeluh ataupun sedih. 

Dan di sisi lain aku menyadari bahwa penyakit yang aku miliki itu anugerah.


Sejak aku sering mensyukuri itu. Aku jarang, bahkan mungkin tidak lagi mengeluh.
Jika aku bahagia, aku merasa penyakitku hilang dengan sendirinya. Itu yang selalu aku dapatkan.
Tetapi itu semua tidak menutup kemungkinan aku tidak putus asa ketika ada pertanyaan dari orang-orang: "apakah kamu sudah sembuh/bisa sembuh?."
Pasti aku menjawab: "penyakit ini tidak akan sembuh."
Aku tidak sadar kalau aku lebih mempercayai dokter yang hanya dinyatakan secara medis.

Hari ini, aku dihubungi oleh orang yg mengasihiku, menyayangiku. Yaitu "mamiku yang paling cerewet."

Ntah kenapa. Aku menyebutnya orang yang paling cerewet. Dia menyayangi anak-anaknya dengan caranya sendiri. Dia tidak pernah membeda-bedakan anaknya, di matanya semua anak-anaknya miliknya.


Sudah beberapa bulan kami tidak bertatap muka langsung. Dia tinggal bersama saudara-saudara kandungku. Sedangkan aku hanya bersama Chef di keluarga Ong, yaitu papaku.

Mamiku sering sekali menghubungiku. Tiap menelponku pasti ada kalimat tanya seperti: "Apakah kamu sudah sembuh?."


Aku hanya melontarkan kalimat yang menunjukkan tidak ada harapan.
"Aku tidak akan sembuh, penyakit ini tidak bisa disembuhkan."


Kemudian mamiku pun menjawab, "Kamu sering beribadah, tapi kenapa kamu seperti tidak ada harapan? Selalu mengatakan bahwa penyakitmu tidak akan sembuh, tidak akan bisa hilang".

Aku terdiam langsung.

Lalu dilanjutkan mamiku kembali, "Kamu aktif di gereja, di sekolah dan itu sering kali melelahkan dirimu sampai akhirnya kambuh. Kamu harus tetap berdoa, secara medis penyakit tidak akan bisa hilang. Tapi tidak ada yang mustahil kalau kamu hanya berharap kepada Tuhan, bukan dokter."

Aku hampir berkaca-kaca saat mamiku yang cerewet itu menyadarkanku sekarang.

Selama ini aku baru sadar, bahwa Tuhan yang bisa mengatasi semuanya. Aku bisa meminta kepada Tuhan "sembuhkan aku."

Mungkin sakit penyakit ini anugerah Tuhan, tetapi ini juga mengajariku untuk lebih berharap kepada-Nya. Bukan yang lain.





Kebahagiaan, kedamaian, adalah salah satu penangkal penyakit yang hebat. - Ajahn Bramn