Terkadang, bertahan lebih sakit daripada melepaskan . .
Ada pertemuan, ada perpisahan
Begitupun sebaliknya, kalo emng kehendakNya seperti itu.
Dia pria jentle yg pernah kutemui utk pertama kalinya, nembak face to face, berpisahpun juga mau face to face alias no chat kek pada umumnya.
Sebelum pertemuan perpisahan tadi malam, tepatnya bulan ke-5 kami berpacaran secara resmi alias punya status.
Aku bangun dari tidur tiba2 netesin air mata, aku sempet bermimpi berpisah dan ternyata mimpi itu jadi kenyataan.
Ketika dia mengucapkan kalimat perpisahan seakan-akan aku merasa sangat sesak dan akhirnya kami menangis bersama.
Tiba2 air mataku yg menetes berhenti, aku bisa senyum no fake. Aku pikir rasa sakitku selama berbulan-bulan sudah keangkat semua.
Aku bersyukur malam tadi aku bisa memandang mata, wajahnya yg ga berhenti buat netesin air mata.
Entah kapan aku terakhir mengusap air matanya. Yg pasti aku masih mengusap air matanya tadi malam.
Aku merindukanmu, tidak membencimu. Rasa sygku bisa nglupain rasa sakitku yg ga cuma 1/2kali.
Tengkiu buat rasa bahagia, sekaligus rasa sakit yg semakin buat aku kuat bertahan walaupun pada akhirnya kandas.
Komitmenku, selama aku masih single aku masih menjadi milikmu jika kamu juga masih membutuhkanku.
Siklus 3th yg lalu terulang kembali, di 5 bulan saja.
Entah kamu atau aku nantinya yg duluan buka lembaran baru utk org lain, aku gatau.
Sampai detik ini, aku netesin air mata karna aku merindukan kita, merindukanmu.
Semoga semuanya baik2 saja ya.☺