I promise. And i'll still love him.
Tepat
pada hari Minggu, 7 Mei 2017 yang lalu.
Hari kematian Ayah dari pria yang
selalu kuingat setiap saat, setiap waktu, setiap aktivitasku, dan setiap aku
berdoa.
Entah
kenapa, pada waktu aku menerima kabar kematian Ayahmu. Hatiku pun ikut sedih,
badan gemetaran dan akupun langsung berdoa. Hari itu, aku sangat ingin sekali
melihat bagaimana keadaanmu saat mengetahui bahwa Ayahmu telah tiada. Jujur,
aku sangatlah khawatir. Malam itu setelah aku bangun dari tidur, aku langsung
bersiap-siap ke Dharma (rumah duka) ditemani oleh teman, tetangga, sekaligus
saudaraku dari kecil.
Ketika
aku sampai di sana, hatiku sangatlah lega karna aku melihat dirimu yang tampak
begitu berusaha untuk tegar dalam kesedihan hatimu itu. Aku turut sedih karna
kepergian Ayahmu yang mendadak itu. Ayahmu pergi dengan tenang, telah ku dengar darimu tugas-tugasnya
selama ia masih merasakan sakit telah ia selesaikan. Dan tak kusangka, waktu aku dan teman-temanmu menjenguk Ayahmu dan aku yang memimpin doa itu adalah hal pertama dan terakhir bagiku.
Sejak
saat itu, hatiku berkata “Aku tidak akan membencimu, tidak lagi membencimu. Aku
akan tetap berusaha di sampingmu, seperti dulu yang kau lakukan padaku. Aku
akan menganggap dirimu dan keluargamu sebagai keluargaku juga, terutama Ayahmu
yang telah tiada itu sudah kuanggap seperti Ayahku sendiri.”
Aku
menemanimu bersama dengan teman-temanmu yang setia itu, “The Gig”. Walaupun
terkadang aku harus sendirian di Dharma, tetapi aku berusaha terbiasa dan tetap
menemanimu hingga larut malam.
Keesokan
harinya, itu adalah hari tutup peti Ayahmu. Aku sengaja tidak ikut, untuk
menghindari ketidaknyamananku ketika aku melihat wanita yang memisahkan kita
itu datang di sana. Guru, teman-temanku bertanya mengapa aku tidak datang? Aku
hanya menjawab seadanya, di sana ada wanita itu. Aku bisa datang malam hari
itu.
Malam
hari itu, aku datang ke Dharma bersama teman-teman pengurus remajaku ketika
penghiburan. Lagi-lagi aku mengkhawatirkan dirimu, aku khawatir kalau dirimu
tiba-tiba sangat sedih. Aku berdoa berulang kali agar kau dan keluargamu,
terutama Ibumu untuk lebih tegar, dan tabah menghadapi kepergian Ayahmu.
Ketika
selesai penghiburan, aku bersama teman-teman pengurusku diajak untuk membawakan
konsumsi kepada orang-orang yang berpartisipasi datang penghiburan.
Saat
itu, aku sangatlah antusias karna aku diperlukan dan aku sangat senang sekali
bisa membantu.
Ke
sana, ke mari aku membawakan konsumsi itu dengan sangat ramah.
Setelah
selesai, teman-teman pengurusku pada pamit pulang. Sedangkan, aku ingin tetap
di situ hingga larut malam seperti apa yang telah kau lakukan ketika Ayahku
dirawat di rumah sakit. Tak peduli kalau aku harus sendirian di sana. Aku
berusaha mengajak ngobrol saudara-saudarimu, menghibur dan memberikan senyuman
pada mereka, serta Ibumu.
Aku
menawarkan bantuan kepada Kakakmu, menemani kemanapun. Bukan bermaksud
mengambil hati mereka, tetapi aku membalas kebaikan yang kau lakukan padaku dan
keluargaku.
Ketika
aku selesai membantu, aku duduk sendirian. Aku ingin sekali bergabung dengan
keluargamu. Tapi, aku masih tahu diri. Aku hanyalah teman yang memiliki
kenangan bersamamu. Pada akhirnya, aku ikut bergabung dengan teman-temanmu dan
menunggumu kembali ke Dharma bersama teman-temanmu. Aku sangat menikmati ketika
kau memandangiku dengan sangat dekat, hanya dengan jarak beberapa cm saja.
Hatiku semakin lega karna aku bisa melihatmu dengan jelas bahwa kau berhasil
berusaha untuk tegar. Saat itu rasa sakit hatiku, piluku, dilemaku hilang
seketika. Aku anggap itu adalah hari pertama kita memulai kenangan yang baru. Akhir yang benar-benar bahagia.
Yang ingin ku ingat adalah janji pada diriku
sendiri, yaitu “aku masih tetap menjadi milikmu selama aku masih sendiri. Dan aku
akan tetap di sampingmu, apapun rintangannya.”
Besoknya,
hari penguburan ayahmu tiba. Aku harus ikut ke sana juga, melihat bagaimana
keadaanmu dan keluargamu. Tak kusangka, aku bertemu dengan wanita itu. Seperti
biasa, aku berpura-pura tak melihatnya atau mengabaikannya. Aku ke tempat
penguburan itu bersama teman-temanmu, mereka yang mengajakku. Aku sangat
berterima kasih pada mereka.
Aku turut sedih ketika mendengarkan kata-kata
refleksi yang disampaikan para Pendeta kita. Begitu baiknya Ayahmu,
sampai-sampai jasanya dikenang banyak orang. Dan Ayahmu begitu menyayangi keluargamu,
juga terlebih menyayangi anak semata wayangnya, yaitu kamu. Menurutku, kamu juga
berhasil berbuat baik bahkan sangat peduli terhadap keluargamu.
Setelah
penaburan bunga, aku ikut bersalaman ke keluargamu dan juga kamu.
Saat
bersalaman dengan Ibumu, aku ingat sekali kata-kata yang dilontarkan “Terima
kasih ya Risna, sudah sampai ke sini.” Aku pun langsung turut senang disambut seperti itu, walaupun
aku hanya hadir di sana dan berdoa.
Besoknya,
maksudnya hari ini. Hari Rabu, 10 Mei 2017.
Tiba-tiba
aku sadar. Mungkin ini maksud dari ke-dilemaan hatiku selama ini. Orang-orang
berpikir aku sudahlah seharusnya ‘move on’. Yap, aku bisa move on. Tapi, kalian
salah. Aku bukan move on untuk melupakan dia, pria yang ku anggap, kalian
anggap telah mempermainkanku. Tapi aku move on karna life must go on. Aku
melanjutkan hari-hari yang sepi ini. Berpura-pura tidak terjadi apa-apa,
berusaha tertawa di tengah rasa kebingungan yang masih menyelimutiku setiap
waktu, setiap aktivitasku.
Kalian
memang benar, mataku telah tertutup saat itu. Aku masih mencintainya bahkan
tampak berjuang sendirian, sedangkan dia tampaknya telah bersenang-senang
dengan wanita itu. Itu hanya presepsiku dan kalian. Tapi kenyataan di balik itu
semua, sangatlah misteri. Kebingungan dimana-mana ada. Apa maksud dari semua
itu? Mengapa ia tega menyakitiku? Mengapa orang baik tidak bisa bersatu?
Mengapa harus berpisah jika keduanya masih mencintai? Dan… masih banyak lagi
pertanyaan-pertanyaan yang terlintas.
Mungkin
ini jawabannya.
Kalau
jodoh, pasti akan dipersatukan kembali. Memang ada pengharapanku seperti itu.
Tapi, itu bukanlah harapanku yang utama. Harapanku yang utama adalah aku ingin
tetap mengasihinya selama aku masih hidup, selama kehendak itu diijinkan.
Cinta
sejati itu, tidak hanya dimiliki oleh pasangan. Menurutku, cinta yang
sesungguhnya adalah ketika kita tidak lagi mementingkan keinginan kita. Tetapi,
mencintai Pencipta kita, keluarga, pasangan kita, baru diri kita.
Aku
telah menemukan itu semua pada diri pria yang sampai saat ini kukasihi. Ia begitu
mencintai keluarganya, dan mengesampingkan keinginannya yang lain. Mungkin dari
itu semua, ia juga sangatlah susah memilih mana orang yang harus tetap
disampingnya, mana orang yang seharusnya ia cintai. Jadi, tak heran kalau dia
masih bersama wanita itu. Juga diriku. Dari awal aku bingung mengapa ia
akhirnya kembali ke wanita itu, wanita yang sangatlah jelas membuatnya terpaksa
mencampakkanku, mencegah wanita itu agar tidak lagi menjatuhkanku dengan
sindiran-sindiran yang ia lontarkan kepadaku. Aku mencintaimu dengan tanpa
logika saat itu. Yang kupikirkan hanyalah mengasihanimu, tanpa mempedulikan
perasaanku sendiri. Sekali aku pernah menggunakan logika-ku aku langsung
membencimu dan berusaha mencampakkanmu lebih dari apa yang telah kau lakukan
padaku.
Aku baru sadar, itu sama saja aku balas dendam.
Aku
akan terus berdoa, berharap aku tetap mengasihimu. Seperti Sang Pencipta
mengasihimu juga. Tak peduli orang-orang mengatakan aku bodoh. Mereka tidak
tahu apa yang kurasakan, perasaan yang ‘Ia’ ijinkan aku turut merasakan itu
sampai sekarang ini.
Masa-masa
remaja memang pastinya mengharapkan sebuah kebahagiaan ketika bersama pasangan.
Akhir yang bahagia bersama pasangan, bahkan sangat tidak mengharapkan adanya
perpisahan.
Tetapi,
saat ini aku sedang merasakan kebahagiaan walaupun segelintir. Pria yang
kukasihi, mengajarkanku bagaimana mencintai keluarga juga. Mengingat, ketika
aku berpacaran dengan pria itu. Aku mengabaikan liburanku bersama keluargaku. Yang
hanya dibenakku dulu adalah saat-saat bersama dia itu saat dimana aku merasakan
bahagia yang tak biasa. Pria yang selalu menemaniku waktu keluargaku tinggal di
luar kota, mengajakku kemanapun, yang membuatku bahagia bahkan meredakan
kesedihanku.
Ternyata, itu semua tidaklah cukup. Dan akhirnya, hubungan itu
kandas dengan alasan apapun yang menyedihkan.
Hubungan
kami memang kandas, tapi itu hanyalah status. Kami masih berusaha berhubungan
baik. Di tengah-tengah perasaan yang tak bisa kami jelaskan masing-masing.
Perjalanan
yang singkat memang, tapi begitu banyak rintangan yang kami lewati.
T*han
memang masih mengijinkan kami bersama. Walaupun tidak sesering dulu. Kami harus
melanjutkan kehidupan masing-masing tanpa menutut dipersatukan kembali.
Aku akan tetap mengasihinya. Jika itu diijinkan.
Dan tetap bersyukur setiap waktu.
LIFE
MUST GO ON !
No comments:
Post a Comment