Wednesday, 10 May 2017

I'll still love him.

I promise. And i'll still love him.



Tepat pada hari Minggu, 7 Mei 2017 yang lalu. 

     Hari kematian Ayah dari pria yang selalu kuingat setiap saat, setiap waktu, setiap aktivitasku, dan setiap aku berdoa.

Entah kenapa, pada waktu aku menerima kabar kematian Ayahmu. Hatiku pun ikut sedih, badan gemetaran dan akupun langsung berdoa. Hari itu, aku sangat ingin sekali melihat bagaimana keadaanmu saat mengetahui bahwa Ayahmu telah tiada. Jujur, aku sangatlah khawatir. Malam itu setelah aku bangun dari tidur, aku langsung bersiap-siap ke Dharma (rumah duka) ditemani oleh teman, tetangga, sekaligus saudaraku dari kecil.

Ketika aku sampai di sana, hatiku sangatlah lega karna aku melihat dirimu yang tampak begitu berusaha untuk tegar dalam kesedihan hatimu itu. Aku turut sedih karna kepergian Ayahmu yang mendadak itu. Ayahmu pergi dengan tenang, telah ku dengar darimu tugas-tugasnya selama ia masih merasakan sakit telah ia selesaikan. Dan tak kusangka, waktu aku dan teman-temanmu menjenguk Ayahmu dan aku yang memimpin doa itu adalah hal pertama dan terakhir bagiku.

Sejak saat itu, hatiku berkata “Aku tidak akan membencimu, tidak lagi membencimu. Aku akan tetap berusaha di sampingmu, seperti dulu yang kau lakukan padaku. Aku akan menganggap dirimu dan keluargamu sebagai keluargaku juga, terutama Ayahmu yang telah tiada itu sudah kuanggap seperti Ayahku sendiri.”

Aku menemanimu bersama dengan teman-temanmu yang setia itu, “The Gig”. Walaupun terkadang aku harus sendirian di Dharma, tetapi aku berusaha terbiasa dan tetap menemanimu hingga larut malam.


     Keesokan harinya, itu adalah hari tutup peti Ayahmu. Aku sengaja tidak ikut, untuk menghindari ketidaknyamananku ketika aku melihat wanita yang memisahkan kita itu datang di sana. Guru, teman-temanku bertanya mengapa aku tidak datang? Aku hanya menjawab seadanya, di sana ada wanita itu. Aku bisa datang malam hari itu.

     Malam hari itu, aku datang ke Dharma bersama teman-teman pengurus remajaku ketika penghiburan. Lagi-lagi aku mengkhawatirkan dirimu, aku khawatir kalau dirimu tiba-tiba sangat sedih. Aku berdoa berulang kali agar kau dan keluargamu, terutama Ibumu untuk lebih tegar, dan tabah menghadapi kepergian Ayahmu.

Ketika selesai penghiburan, aku bersama teman-teman pengurusku diajak untuk membawakan konsumsi kepada orang-orang yang berpartisipasi datang penghiburan.

Saat itu, aku sangatlah antusias karna aku diperlukan dan aku sangat senang sekali bisa membantu.
Ke sana, ke mari aku membawakan konsumsi itu dengan sangat ramah.

Setelah selesai, teman-teman pengurusku pada pamit pulang. Sedangkan, aku ingin tetap di situ hingga larut malam seperti apa yang telah kau lakukan ketika Ayahku dirawat di rumah sakit. Tak peduli kalau aku harus sendirian di sana. Aku berusaha mengajak ngobrol saudara-saudarimu, menghibur dan memberikan senyuman pada mereka, serta Ibumu.

Aku menawarkan bantuan kepada Kakakmu, menemani kemanapun. Bukan bermaksud mengambil hati mereka, tetapi aku membalas kebaikan yang kau lakukan padaku dan keluargaku.
Ketika aku selesai membantu, aku duduk sendirian. Aku ingin sekali bergabung dengan keluargamu. Tapi, aku masih tahu diri. Aku hanyalah teman yang memiliki kenangan bersamamu. Pada akhirnya, aku ikut bergabung dengan teman-temanmu dan menunggumu kembali ke Dharma bersama teman-temanmu. Aku sangat menikmati ketika kau memandangiku dengan sangat dekat, hanya dengan jarak beberapa cm saja. Hatiku semakin lega karna aku bisa melihatmu dengan jelas bahwa kau berhasil berusaha untuk tegar. Saat itu rasa sakit hatiku, piluku, dilemaku hilang seketika. Aku anggap itu adalah hari pertama kita memulai kenangan yang baru. Akhir yang benar-benar bahagia. 
Yang ingin ku ingat adalah janji pada diriku sendiri, yaitu “aku masih tetap menjadi milikmu selama aku masih sendiri. Dan aku akan tetap di sampingmu, apapun rintangannya.”

     Besoknya, hari penguburan ayahmu tiba. Aku harus ikut ke sana juga, melihat bagaimana keadaanmu dan keluargamu. Tak kusangka, aku bertemu dengan wanita itu. Seperti biasa, aku berpura-pura tak melihatnya atau mengabaikannya. Aku ke tempat penguburan itu bersama teman-temanmu, mereka yang mengajakku. Aku sangat berterima kasih pada mereka.
Aku turut sedih ketika mendengarkan kata-kata refleksi yang disampaikan para Pendeta kita. Begitu baiknya Ayahmu, sampai-sampai jasanya dikenang banyak orang. Dan Ayahmu begitu menyayangi keluargamu, juga terlebih menyayangi anak semata wayangnya, yaitu kamu. Menurutku, kamu juga berhasil berbuat baik bahkan sangat peduli terhadap keluargamu.

Setelah penaburan bunga, aku ikut bersalaman ke keluargamu dan juga kamu.
Saat bersalaman dengan Ibumu, aku ingat sekali kata-kata yang dilontarkan “Terima kasih ya Risna, sudah sampai ke sini.” Aku pun langsung turut senang disambut seperti itu, walaupun aku hanya hadir di sana dan berdoa.
     
     Besoknya, maksudnya hari ini. Hari Rabu, 10 Mei 2017.
Tiba-tiba aku sadar. Mungkin ini maksud dari ke-dilemaan hatiku selama ini. Orang-orang berpikir aku sudahlah seharusnya ‘move on’. Yap, aku bisa move on. Tapi, kalian salah. Aku bukan move on untuk melupakan dia, pria yang ku anggap, kalian anggap telah mempermainkanku. Tapi aku move on karna life must go on. Aku melanjutkan hari-hari yang sepi ini. Berpura-pura tidak terjadi apa-apa, berusaha tertawa di tengah rasa kebingungan yang masih menyelimutiku setiap waktu, setiap aktivitasku.

Kalian memang benar, mataku telah tertutup saat itu. Aku masih mencintainya bahkan tampak berjuang sendirian, sedangkan dia tampaknya telah bersenang-senang dengan wanita itu. Itu hanya presepsiku dan kalian. Tapi kenyataan di balik itu semua, sangatlah misteri. Kebingungan dimana-mana ada. Apa maksud dari semua itu? Mengapa ia tega menyakitiku? Mengapa orang baik tidak bisa bersatu? Mengapa harus berpisah jika keduanya masih mencintai? Dan… masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang terlintas.

Mungkin ini jawabannya.

     Kalau jodoh, pasti akan dipersatukan kembali. Memang ada pengharapanku seperti itu. Tapi, itu bukanlah harapanku yang utama. Harapanku yang utama adalah aku ingin tetap mengasihinya selama aku masih hidup, selama kehendak itu diijinkan.

Cinta sejati itu, tidak hanya dimiliki oleh pasangan. Menurutku, cinta yang sesungguhnya adalah ketika kita tidak lagi mementingkan keinginan kita. Tetapi, mencintai Pencipta kita, keluarga, pasangan kita, baru diri kita.

Aku telah menemukan itu semua pada diri pria yang sampai saat ini kukasihi. Ia begitu mencintai keluarganya, dan mengesampingkan keinginannya yang lain. Mungkin dari itu semua, ia juga sangatlah susah memilih mana orang yang harus tetap disampingnya, mana orang yang seharusnya ia cintai. Jadi, tak heran kalau dia masih bersama wanita itu. Juga diriku. Dari awal aku bingung mengapa ia akhirnya kembali ke wanita itu, wanita yang sangatlah jelas membuatnya terpaksa mencampakkanku, mencegah wanita itu agar tidak lagi menjatuhkanku dengan sindiran-sindiran yang ia lontarkan kepadaku. Aku mencintaimu dengan tanpa logika saat itu. Yang kupikirkan hanyalah mengasihanimu, tanpa mempedulikan perasaanku sendiri. Sekali aku pernah menggunakan logika-ku aku langsung membencimu dan berusaha mencampakkanmu lebih dari apa yang telah kau lakukan padaku. 
Aku baru sadar, itu sama saja aku balas dendam.

Aku akan terus berdoa, berharap aku tetap mengasihimu. Seperti Sang Pencipta mengasihimu juga. Tak peduli orang-orang mengatakan aku bodoh. Mereka tidak tahu apa yang kurasakan, perasaan yang ‘Ia’ ijinkan aku turut merasakan itu sampai sekarang ini.

Masa-masa remaja memang pastinya mengharapkan sebuah kebahagiaan ketika bersama pasangan. Akhir yang bahagia bersama pasangan, bahkan sangat tidak mengharapkan adanya perpisahan.

Tetapi, saat ini aku sedang merasakan kebahagiaan walaupun segelintir. Pria yang kukasihi, mengajarkanku bagaimana mencintai keluarga juga. Mengingat, ketika aku berpacaran dengan pria itu. Aku mengabaikan liburanku bersama keluargaku. Yang hanya dibenakku dulu adalah saat-saat bersama dia itu saat dimana aku merasakan bahagia yang tak biasa. Pria yang selalu menemaniku waktu keluargaku tinggal di luar kota, mengajakku kemanapun, yang membuatku bahagia bahkan meredakan kesedihanku. 
Ternyata, itu semua tidaklah cukup. Dan akhirnya, hubungan itu kandas dengan alasan apapun yang menyedihkan.

Hubungan kami memang kandas, tapi itu hanyalah status. Kami masih berusaha berhubungan baik. Di tengah-tengah perasaan yang tak bisa kami jelaskan masing-masing.
Perjalanan yang singkat memang, tapi begitu banyak rintangan yang kami lewati.
T*han memang masih mengijinkan kami bersama. Walaupun tidak sesering dulu. Kami harus melanjutkan kehidupan masing-masing tanpa menutut dipersatukan kembali. 
Aku akan tetap mengasihinya. Jika itu diijinkan. 
Dan tetap bersyukur setiap waktu.


LIFE MUST GO ON !




No comments:

Post a Comment